<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739</id><updated>2011-07-30T23:09:38.358-07:00</updated><title type='text'>sebuah ruang tunggu ...</title><subtitle type='html'>disebuah ruang tunggu, kapan kita mendapat giliran dipanggil?.sementara kita telah memiliki nomor urut masing masing. pasti dan pasti kita akan meninggalkan ruang tunggu ini untuk memasuki sebuah ruangan lain yang kita tidak tahu akan terjadi apa disana.disebuah ruang tunggu ini mari kita berbagi. sekecil apapun semoga menjadikan hidup lebih berarti...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-3635310551529000576</id><published>2010-10-26T12:49:00.000-07:00</published><updated>2010-10-26T12:56:27.347-07:00</updated><title type='text'>MAS KAITO DAN HUSNUL KHOTIMAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/TMcyU3o-CGI/AAAAAAAAASE/0a3a2pPdpA0/s1600/foto+shalat.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 171px; height: 137px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/TMcyU3o-CGI/AAAAAAAAASE/0a3a2pPdpA0/s320/foto+shalat.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532446001362503778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/TMcyAQiQvsI/AAAAAAAAAR8/vugeF3nJjuM/s1600/foto+shalat.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 171px; height: 137px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/TMcyAQiQvsI/AAAAAAAAAR8/vugeF3nJjuM/s200/foto+shalat.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532445647268003522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mas Kaito namanya.Mengaku asal Solo pria separuh baya ini dikenal suka bergaul dengan siapa saja. Kulitnya yang menghitam seakan menyiratkan bahwa dia adalah pekerja keras untuk kehidupan. Saya tidak tahu pasti bagaimana dan kapan dia ada di Bandung. Setahu saya dia sudah ada sebelum saya hijrah ke Bandung dari sebuah kota kecil diujung timur Pulau Jawa. Ketika saya di Bandung pun saya tidak mengenal akrab yang namanya Mas Kaito.  Saya baru mengenal akrab pria yang hidupnya nomaden ini setelah saya meminta jasanya untuk memijat tangan saya yang terkilir.  Hebat, pijatan Mas Kaito manjur.  Kata orang sini dia disebut sudah tahu urat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang misterius keberadaan Mas Kaito di Bandung. Biarpun dia mengaku punya keluarga yang harus dia nafkahi tapi saya tidak pernah melihat dia bersama keluarganya. Yah,  mau berkeluarga bagaimana la  wong hidupnya saja nomaden. Pekerjaannya tidak tetap. Dari tukang kebun, buruh angkut barang,tukang gali sumur,tukang gali kubur sampai memijat dia lakoni. Duit yang dia kumpulkan juga tidak tahu dikemanakan. Mungkin benar juga pengakuan Mas Kaito bahwa dia punya keluarga di Solo yang harus dinafkahi. Kabar lain menyebutkan dia pernah menikahi urang Bandung namun akhirnya bercerai gara gara masalah ekonomi. Entahlah … &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik memang cara bergaul Mas Kaito. Dia selalu berusaha menggunakan bahasa Sunda dengan logat Jawanya yang medok. Walau ngomong  Sundanya jago, namun tetap saja saya geli lantaran logatnya yang sangat njawani itu.  Entah lantaran itu, saya selalu berbahasa Jawa bila ngobrol dengan Mas Kaito. Awalnya dia selalu membalas dengan menggunakan bahasa Sunda, tapi mungkin lantaran sungkan dia akhirnya mau juga berbahasa Jawa bila ngobrol dengan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Kaito adalah figur yang mudah dimintai tolong. Orang tidak perlu memintanya dua kali, sekali saja dia dimintai tolong dia akan langsung menyanggupinya bila dia mampu dan ada waktu. Namun lantaran gaya hidupnya yang semau gue, tinggal tidak menentu dan berpenampilan kusam itulah, maka masyarakat dikampung  saya  berada tidak terlalu menghargai Mas Kaito. Pria berambut ikal ini tidak hanya termarjinalkan secara ekonomi namun juga secara sosial dianggap remeh walau dia bukan sampah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran dianggap remeh itulah, maka masyarakat disini sering tidak menyebutnya dengan sapaan Mas Kaito  namun ‘Si Kaito’. Penyebutan ‘si’ sebagai awalan menyebut nama seseorang dalam bahasa Sunda dianggap tidak baik bahkan cenderung kurang ajar. Misalnya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Si Fulan teh kumaha nya, sapopoe gawena ngan saukur hees wae. Dasar pangedulan!&lt;/span&gt;.”  Artinya kurang lebih,”Si Fulan ini bagaimana sih, kerjaannya cuman tidur doang. Dasar pemalas!.” Nah, Mas Kaito yang sering dipanggil ‘Si Kaito’ ini jelas bukan sampah masyarakat atau orang yang tidak disukai sehingga dia dipanggil demikian. Masyarakat dikampung saya – mungkin – sudah berpikiran materialistis sehingga orang yang tidak berdaya secara materi pantas dipanggil dengan sebutan ‘si’ walau dia bukan orang jahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, setahu saya Mas Kaito tidak terlalu peduli dengan sebutan ‘si’ didepan namanya. Dia tetap sebagai Kaito yang lugu, jujur, tidak neko neko dan hidup sangat bersahaja.  Dalam setiap pembagian zakat fitrah namanya selalu ada dalam daftar mustahik. Suka atau tidak Mas Kaito sudah menjadi bagian dari masyarakat kami.  Ada sampah yang menggunduk dan perlu dibuang segera, panggil Mas Kaito. Ada yang perlu dipijat dan perlu dilemaskan otot ototnya, panggil Mas Kaito. Perlu tenaga untuk menggali kubur atau sumur?. Panggil Mas Kaito ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikalangan jamaah masjid dikampung saya, nama Mas Kaito kurang disebut. Itu lantaran dia memang sangat jarang berada dimasjid apalagi hadir dipengajian atau ikut shalat berjamaah. Namun, tidak biasanya malam itu menjelang shalat Isya disaat jamaah menunggu iqomah dikumandangkan, saya melihat Mas Kaito ada dalam deretan jamaah. Dia tidak banyak bicara bahkan terkesan merenung, menafakuri sesuatu yang hanya dia yang tahu. Ketika iqomah dikumandangkan dan jamaah berdiri membentuk barisan, Mas Kaito bergegas mengisi shaf terdepan. Dia persis disamping kiri saya. Saya tidak merasakan hal yang tidak biasa selama rakaat pertama. Hanya setelah rakaat kedua dan imam hampir selesai membaca Surah Sal Fatihah, saya merasakan ada yang berat dibahu kiri saya. Mas Kaito seperti bersandar. Setelah Surah Al Fatihah selesai dibacakan dan kami akan mengamininya, saya mendadak hampir terjatuh lantaran beban dibahu kiri saya semakin berat!. Dan akhirnya sesuatu yang luar biasa terjadi, “Buukkk!!!.” Seakan berdentum badan Mas Kaito terjatuh didepan saya dalam posisi menyamping. Tidak ada suara merintih yang keluar dari bibirnya, hanya lirih terdengar suara mendengkur. Sebagian jamaah yang bubar akhirnya menggotong tubuh Mas Kaito agak kebelakang. Kami merubunginya, ada yang memijat, ada yang sibuk mencari minyak telon dan ada yang mengipasi tubuh Mas kaito. Namun dengan pasti seorang jamaah yang sedari tadi memegang nadi Mas Kaito berujar, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Atos teu ayaan&lt;/span&gt;.” Artinya, Mas Kaito telah meninggal dunia ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bakal mengira orang yang sering dianggap tidak berarti semacam Mas Kaito bisa menjemput kematiannya ditempat yang suci dan dalam keadaan beribadah, bertataqarub kepada Rabbnya?. Mungkin orang akan berpikir,”Ah, orang seperti Si Kaito matinya mungkin dalam keadaan sendiri dipinggir kali.” Namun kejadian hebat yang saya lihat didepan mata saya menyiratkan bahwa bila Allah Azza Wa Jalla ridho terhadap hambaNya - walau dia dipandang hina dalam pandangan manusia – maka dia akan diangkat derajatnya. Secara kasat mata Mas Kaito menjemput ajalnya dalam keadaan Husnul Khotimah. Sebuah akhir kehidupan yang pasti diidam idamkan oleh seorang mukmin ... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allaahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti waan najaata minan naari wal ‘afwa ‘indal hisaab&lt;/span&gt; … Ya Allah ringankanlah kami dalam menjemput kematian, jauhkanlah kami dari neraka dan ampunilah kami pada hari terjadinya hisab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang luar biasa tidak berhenmti hanya sampai disitu. Karena almarhum Mas Kaito dikenal tidak punya tempat tinggal tetap, maka berbondong bondong orang menawarkan rumahnya sebagai rumah duka tempat bersemayam jenazah Mas Kaito. Infaq dan sodaqoh pun kemudian mengalir deras, tanpa kami tahu kepada siapa uang sebanyak itu akan diserahkan. Orang seakan tersadarkan bahwa Allah tak punya alasan untuk ditolak untuk menentukan siapa hambaNya yang akan dipilih menikmati Husnul Khotimah. Toh, juga pernah dikisahkan bagaimana Allah masukkan seorang pelacur yang hina dina dalam pandangan manusia  kedalam surgaNya hanya lantaran dia ikhlas memberi minum seekor anjing yang kehausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, alhamdulillah kami menemukan keluarga Mas Kaito yang berhak menerima uang titipan masyarakat yang bersimpati. Ternyata Mas Kaito memiliki anak yang masih kecil dikampung halamannya. Anak inilah yang dia nafkahi secara rutin dari hasil jerih payahnya selama di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, masukkanlah kami dalam kumpulan hamba hambaMu yang telah Kau beri nikmat Husnul Khotimah, sebagaimana yang Kau anugerahkan kepada salah satu hambaMu, Mas Kaito …&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-3635310551529000576?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/3635310551529000576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=3635310551529000576&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3635310551529000576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3635310551529000576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2010/10/mas-kaito-dan-husnul-khotimah.html' title='MAS KAITO DAN HUSNUL KHOTIMAH'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/TMcyU3o-CGI/AAAAAAAAASE/0a3a2pPdpA0/s72-c/foto+shalat.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-6712405070875881852</id><published>2009-07-27T23:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T23:38:31.472-07:00</updated><title type='text'>ETIKA BERUNJUK RASA</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6cnxcZtvI/AAAAAAAAARk/6KGvO5coVWQ/s1600-h/203419p.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 151px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6cnxcZtvI/AAAAAAAAARk/6KGvO5coVWQ/s200/203419p.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363396413346133746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyampaikan aspirasi, ketidak puasan bahkan penolakan merupakan hal yang biasa disebuah negara yang berdaulat. Dalam skala yang lebih besar dan menyangkut keberadaan massa, kita mengenalnya sebagai aksi demo atau unjuk rasa. Ada yang berkenaan dengan masalah buruh, tuntutan kenaikan upah, ketidakadilan dan sebagainya. Unjuk rasa atau aksi demo saat ini juga dimanfaatkan sebagai salah satu cara untuk menuntut adanya perubahan politik dan merupakan salah satu bagian dari hak warga negara untuk menyalurkan aspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan, sejauh mana unjuk rasa yang dilakukan elemen masyarakat ini berada dalam koridor aturan yang ditentukan, etika  serta tidak mengganggu hak warga negara yang tidak ikut berunjuk rasa.  Hal ini perlu dilontarkan sebab tidak jarang unjuk rasa mengakibatkan masyarakat merasa tidak nyaman bahkan tidak aman.  Apalagi, bila unjuk rasa kemudian diakhiri dengan kerusuhan dan aksi destruktif lainnya yang mengakibatkan adanya korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah etika dalam berunjuk rasa perlu ditanamkan dan kemudian dijalankan oleh semua komponen masyarakat. Sebab dikala kita ingin suara hati kita didengar oleh pihak lain, dilain pihak kita juga harus menghormati hak warga lain untuk tidak terganggu aktifitas dan keamanannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh menyejukkan ketika massa melakukan aksi turun kejalan namun aktifitas masyarakat berjalan sebagaimana biasanya meskipun mereka paling tidak harus menerima kenyataan bila lalu lintas menjadi terganggu. Tapi selebihnya mereka tetap merasa nyaman dan aman dijalan. Kaum ibu tetap &lt;em&gt;enjoy&lt;/em&gt; berbelanja kepasar,  karyawan tetap bisa masuk kerja dan anak sekolah tidak harus jalan kaki karena angkutan kota tidak berani beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu saja bisa menerima adanya aksi unjuk rasa yang dilakukan secara beretika. Bagaimanapun juga itu adalah hak warga negara untuk menyalurkan aspirasinya bila lembaga resmi sudah dirasa tidak lagi bisa diandalkan. Namun, sebagian masyarakat lain pasti ingin dihormati pula haknya untuk menjalankan aktifitasnya  secara normal. &lt;em&gt;(Syam Alam)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-6712405070875881852?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/6712405070875881852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=6712405070875881852&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6712405070875881852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6712405070875881852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/07/etika-berunjuk-rasa.html' title='ETIKA BERUNJUK RASA'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6cnxcZtvI/AAAAAAAAARk/6KGvO5coVWQ/s72-c/203419p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-2417629952896779376</id><published>2009-07-27T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T21:53:20.793-07:00</updated><title type='text'>MEMAKNAI KEMERDEKAAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6ELp7OKlI/AAAAAAAAARc/nTBE08zXiTU/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 93px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6ELp7OKlI/AAAAAAAAARc/nTBE08zXiTU/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363369542012512850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tak terbantahkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diraih berkat perjuangan gigih yang tak mengenal lelah dan bukannya atas kemurahan hati atau hadiah dari bangsa lain. Darah yang membasahi pertiwi, genangan air mata serta niat tulus tanpa pamrih para pejuang bangsa akhirnya membuahkan hasilnya, sebuah kemerdekaan yang kita nikmati hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, adalah juga tak terbantahkan bahwa masih banyak saudara saudara kita yang hingga kini belum merasakan sepenuhnya manisnya kemerdekaan. Hak hidup mereka masih tergadaikan, kebebasan berpendapat mereka masih dikebiri dan terlebih lagi masih begitu banyak rakyat Indonesia yang hidupnya berada dibawah garis kemiskinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan struktural telah terjadi dimana mana dan kita sepakat menjadikan kemiskinan itu sebagai &lt;em&gt;common enemy&lt;/em&gt;. Namun sayang, hingga kini keberpihakan kita kepada kaum miskin masih setengah hati. Ibaratnya, kita membicarakan kemiskinan dan kelaparan sementara mulut kita sibuk mengunyah sambil mengitari meja makan yang penuh dengan hidangan lezat.   Empati kita yang tidak diikuti oleh sebuah tindakan nyata hanya akan memperparah rasa sakit hati rakyat  miskin. Nah, untuk rakyat miskin inilah masihkah kita mau mengatakan bahwa mereka juga ikut menikmati kemerdekaan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik jelas kita memang sudah tidak mengalami penjajahan oleh bangsa lain. Namun ternyata bentuk penindasan yang lain masih berlangsung. Rakyat yang dibodohi, rakyat yang hidupnya diperbudak, rakyat yang hanya dijadikan obyek eksploitasi, rakyat yang diperjual belikan sebagai pelacur, rakyat yang dipasung hak hidupnya bahkan rakyat yang tidak dibela dimata hukum, bukankah mereka adalah rakyat yang terjajah?. Pertanyaan selanjutnya, adilkah ketika kemerdekaan hanya dinikmati oleh sebagian rakyat saja sementara yang lain gigit jari dalam hidup yang terlunta lunta dinegerinya sendiri?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para pahlawan bangsa berdarah darah memperjuangkan kemerdekaan, mereka pastilah tidak sudi mempersembahkan kemerdekaan hanya untuk sebagian rakyat Indonesia saja. Mereka berjuang tulus untuk semua saudara sebangsa setanah air. Berkorban apapun telah mereka lakukan hanya agar tidak ada lagi penindasan dibumi pertiwi. Coba bandingkan dengan kita yang masih sering berjuang untuk diri sendiri, keluarga, kelompok, golongan dan kroni kroni. (Syam Alam)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-2417629952896779376?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/2417629952896779376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=2417629952896779376&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2417629952896779376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2417629952896779376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/07/memaknai-kemerdekaan.html' title='MEMAKNAI KEMERDEKAAN'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm6ELp7OKlI/AAAAAAAAARc/nTBE08zXiTU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-1950957854044779193</id><published>2009-07-26T23:32:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T23:36:22.923-07:00</updated><title type='text'>ANAK MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm1KwHM77dI/AAAAAAAAAO8/K-wp3Tk4KeY/s1600-h/AWQV3BVCAEEWCAMCA9G61UZCANDFQT6CAQ7NNT9CAW2GHZKCA503LHSCAZPJ1JWCAUGPCDXCAR044O6CAF92P9FCA80G3DXCABUYQT1CA1MIEXDCA6LY9F4CAUT3Q33CAF7R17FCA9VJSZUCAQUUXY9CAZJ23OJ.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 93px; height: 130px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm1KwHM77dI/AAAAAAAAAO8/K-wp3Tk4KeY/s320/AWQV3BVCAEEWCAMCA9G61UZCANDFQT6CAQ7NNT9CAW2GHZKCA503LHSCAZPJ1JWCAUGPCDXCAR044O6CAF92P9FCA80G3DXCABUYQT1CA1MIEXDCA6LY9F4CAUT3Q33CAF7R17FCA9VJSZUCAQUUXY9CAZJ23OJ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363024921695612370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak anak bangsa adalah aset dimasa depan. Pada mereka kita mengharapkan adanya sebuah generasi yang lebih baik, lebih bermartabat dan lebih jujur pada sejarah. Karena itulah, adalah juga tanggung jawab kita untuk mempersiapkan anak anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berani menatap kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang harus dipahami, betapa anak anak butuh ‘ruang bermain’ yang dapat &lt;br /&gt;mengantarkan mereka tumbuh sebagaimana mestinya. Sementara yang sering kita saksikan anak anak tak jarang kehilangan ruang untuk bermain sesuai usia dan tingkat pemahamannya. Mereka dimanjakan dengan berbagai fasilitas teknologi serta kecanggihan tontonan dan komunikasi. Dalam posisi seperti ini mereka sering menjadi tidak terlindungi dari informasi yang menyesatkan. Hasilnya, begitu banyak kejahatan yang dilakukan anak anak hanya karena mereka terinspirasi untuk meng &lt;em&gt;copy paste  &lt;/em&gt;tontonan kekerasan dan sejenisnya yang meruyak tak kenal waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara disisi lain, anak anak juga sering termarjinalkan sebagai obyek dari ambisi orang tua yang tidak terkendali. Mereka bahkan tidak punya hak untuk menikmati masa kanak kanak mereka. Boro boro bisa menikmati pendidikan, untuk berpikir bermain pun mereka  terpasung. Kita bahkan telah merampas tawa dan keceriaan mereka.  Mereka terlempar hidup sebagai buruh kasar, terhempas dijalanan bahkan diperjual belikan hak hidupnya. Nyaris tanpa perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kekerasan sering mereka terima, hal ini bukannya menumbuhkan sikap bertanggung jawab pada kehidupannya, sebab sebaliknya anak anak kemudian menjadi terbiasa dengan kekerasan dan celakanya kemudian menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah saatnya kita bangunkan kembali nurani kita agar lebih mampu memahami hakikat perilaku dan dunia anak anak. Bukankah kita dulu juga tumbuh sebagai anak anak sebelum kemudian dewasa dan uzur?. Bukankah kita dulu senang bila ‘ruang bermain’ kita diberikan dengan sepenuhnya tanpa dikebiri dan dimanipulasi?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, itulah yang juga diinginkan oleh anak anak masa kini.&lt;br /&gt;Dalam istilah Kahlil Gibran, kita ini hanyalah busur belaka ketika anak anak menjadi anak panahnya. Dan semestinya kita bisa menjadi busur yang mantap. Sebab hanya dalam rentangan busur yang mantap inilah kemudian anak panah melesat jauh menemui sasaran. Menuju masa depannya. &lt;em&gt;(Syam Alam)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-1950957854044779193?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/1950957854044779193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=1950957854044779193&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/1950957854044779193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/1950957854044779193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/07/anak-masa-depan.html' title='ANAK MASA DEPAN'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sm1KwHM77dI/AAAAAAAAAO8/K-wp3Tk4KeY/s72-c/AWQV3BVCAEEWCAMCA9G61UZCANDFQT6CAQ7NNT9CAW2GHZKCA503LHSCAZPJ1JWCAUGPCDXCAR044O6CAF92P9FCA80G3DXCABUYQT1CA1MIEXDCA6LY9F4CAUT3Q33CAF7R17FCA9VJSZUCAQUUXY9CAZJ23OJ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-208752517203095098</id><published>2009-07-24T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T02:43:43.887-07:00</updated><title type='text'>AIR KITA SEMUA</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmmB7pnvd7I/AAAAAAAAAOk/tVgWHFozH5Q/s1600-h/2vtxf8l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 270px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmmB7pnvd7I/AAAAAAAAAOk/tVgWHFozH5Q/s320/2vtxf8l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361959693146093490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Air bagi anda mungkin tidak istimewa.  Setiap pagi, bangun tidur anda kekamar mandi dan membersihkan diri sepuasnya. Anda menggunakan air yang melimpah sehingga tumpah dimana mana. Sementara sopir anda juga sibuk memandikan mobil kesayangan anda. Dia menggunakan slang, air lalu ngocor dengan derasnya dan tumpah kemana mana. Setelah itu, tukang kebun mulai menyirami tanaman dihalaman yang luas juga dengan slang. Air memercik kemana mana, tumpah kemana mana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu pembantu anda pun sudah bangun dan dia mulai mencuci alat alat dapur yang kotor lalu mencuci pakaian keluarga anda. Lalu semua anggota keluarga anda pun pagi itu juga menggunakan air untuk keperluannya. Semuanya. Mereka kadang menyiram kloset atau lantai kamar mandi dengan air yang berlebihan. Kadang ada juga yang lupa menutup kran air hingga air tumpah kemana mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya dilakukan dari pagi, siang, sore, malam hingga kepagi lagi. Lagi dan lagi, sementara kita tidak pernah mau berpikir bahwa air yang kita gunakan suatu saat akan berhenti ngocor karena habis dieksploitasi secara masif. Saking dianggap biasa kita jadi tidak peduli bila air kemudian tumpah kemana mana. Orang sering berpikir picik,”La wong air airku sendiri kok , mau tak pake seenaknya ya itu urusanku!”. Hah?!. Airnya sendiri?!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia saat ini diancam oleh krisis air bersih. Bukan semata mata karena pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat atau terganggunya keseimbangan ekosistem, namun juga karena penggunaan dan pemanfaatan air yang berlebihan dan tidak benar. Sudah saatnya kita memperlakukan air sebagai bahan bernilai yang dimanfaatkan secara bijak dan dijaga kelangsungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, dibalik sikap semena mena kita dalam mengekploitasi air, disisi lain kita justeru menyadari bahwa air merupakan sumber utama kehidupan. Kita menyadari tak dapat bertahan hidup tanpa air. Tapi ketika kita dihadapkan pada pemanfaatan air bagi kepentingan pribadi, kita pun berpikir parsial bahwa itu urusan kita sendiri dan kita cenderung menjadi tamak. Padahal, air dimuka bumi ini juga milik kita yang harus dijaga secara bersama sama pula. Karena yakinlah, kerusakan alam dibagian bumi yang lain akhirnya juga berdampak sampai kehalaman rumah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah saatnya kita mulai menghargai air dengan melakukan pemanfaatan sumber daya ini dengan baik dan benar. Banyak hal yang bisa lakukan untuk menghargai air. Tentu saja dimulai dari diri kita hingga keseluruh anggota keluarga. Hal ini dimulai dari tahap memberikan pemahaman, mengajarkan hingga dilaksanakan dalam perilaku semua anggota keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kita sering meremehkan tahapan seperti ini. Padahal inilah langkah awal  dalam mewariskan perilaku arif memanfaatkan air kesemua anggota keluarga. Pengajaran dan perilaku aktif kita pada akhirnya akan terus dilakukan semua anggota keluarga. Pada gilirannya kita harapkan perilaku seperti itu juga akan diwariskan  kegenerasi berikutnya. Jadi jelas ini bukan masalah remeh temeh tapi justeru awal yang krusial yang sering dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal menanamkan perilaku bijak memanfaatkan air pada keluarga?. Jelas yang pertama adalah memberikan pemahaman yang ajeg bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita bisa menyisipkan materi pembicaraan tentang air dalam setiap kesempatan berkumpul bersama keluarga. Dari pemahaman yang sama inilah akhirnya semua anggota keluarga akan memiliki perilaku bijak yang sama pula. Bayangkan, bila ini dilakukan oleh semua keluarga dinegeri ini bahkan dunia. Mimpikah ini?. Boleh jadi mimpi. Tapi akan lebih tepat kalau ini disebut sebagai harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana perilaku kita sehari hari dalam memanfaatkan air  agar hemat, bermanfaat dan tidak mubazir?. Contoh sederhana adalah mematikan kran air saat menggosok gigi, memanfaatkan air bekas mencuci beras, sayur dan buah untuk menyiram tanaman, menggunakan ember saat mencuci mobil dan bukan slang karena akan sangat boros sekali. Yang tak kalah pentingnya adalah tidak membiarkan kran yang bocor karena walau setetes demi setes bila dibiarkan dapat membuang air hingga 13 liter perhari. Masih banyak yang bisa kita lakukan agar penggunaan air benar benar tepat, hemat dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena air merupakan sumber kehidupan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, maka sudah waktunya kita bersikap arif dalam mengkonsumsi air. Memang benar air adalah sumber kehidupan sehingga tanpa air maka kehidupan akan mustahil.(Syam Alam)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-208752517203095098?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/208752517203095098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=208752517203095098&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/208752517203095098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/208752517203095098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/07/air-kita-semua.html' title='AIR KITA SEMUA'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmmB7pnvd7I/AAAAAAAAAOk/tVgWHFozH5Q/s72-c/2vtxf8l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-3597743638920855803</id><published>2009-07-01T20:04:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T21:49:25.802-07:00</updated><title type='text'>RAKYAT BUKAN KUDA BEBAN</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SlrOgUjSj1I/AAAAAAAAAN0/ijB1a8So4BY/s1600-h/Horse.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SlrOgUjSj1I/AAAAAAAAAN0/ijB1a8So4BY/s200/Horse.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357821761378488146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat ini terasa sekali nama ‘rakyat’ dikumandangkan dimana mana. Dari panggung kepanggung,  juga diberbagai media massa cetak dan elektronik - bahkan didunia maya sekalipun - nama rakyat diagung agungkan sebagai pertaruhan dari sebuah perjuangan mulia seorang pemimpin ( dan bakal pemimpin tentunya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengepalkan jemari tangannya, banyak politisi yang mendadak ‘sangat mencintai’ rakyatnya sampai harus berteriak dengan nada tinggi, “Rakyat harus dibela!”. Dan seterusnya, sehingga rakyat demikian tersanjung. Betapa nama mereka demikian mendapat tempat dihati pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, tanpa ada pertaruhan dan ‘pementasan’ dipanggung pun, rakyat tetap harus dibela termasuk dibela haknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kemakmuran yang diidamkan serta dibela haknya dimata hukum. Pendek kata, rakyat tidak boleh termarjinalkan oleh ambisi meraih kekuasaan. Mau ada pemilu atau tidak, rakyat tidak boleh menjadi komoditas politik yang kemudian dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saat pemilu menjelang kemudian banyak pemimpin yang ‘berbaik hati’ memposisikan diri sebagai ‘pelayan rakyat’, seharusnya semangat menjadi ‘pelayan’ itu terus bersemi. Yang harus dipahami, pemimpin adalah juga entrepreneur politik. Artinya, mereka adalah aktor yang siap dengan gagasan cerdas, memperjuangkannya dan lalu siap pula menanggung risiko ditentang oleh oligarki kepentingan yang kuat. Bagi mereka rakyat bukan deretan angka yang dibutuhkan untuk meraih kekuasaan. Bagi mereka rakyat justeru memiliki bargaining position yang tinggi untuk diperjuangkan segala hak hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama besar, Salim bin Abdullah pernah memberi nasihat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Wahai khalifah, jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan saudara saudaramu dan sayangilah anakmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin terlalu mengawang awang bila kita mengharapkan pemimpin negeri ini memperlakukan rakyat sebagaimana yang dinasihatkan Salim bin Abdullah. Setidaknya, cukuplah pemimpin kita tidak mencederai janji janji manisnya disaat dia menjadikan rakyat sebagai deretan angka untuk meraih kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak perlu (dan mungkin juga mustahil) berlaku bagai khalifah Umar bin Khattab yang rela memanggul gandum dipundaknya untuk diserahkan kepada rakyatnya yang kelaparan. Bagi rakyat negeri ini, cukuplah para pemimpinnya mencintai mereka sebagaimana perlakuan manis dan mesranya dikala masa kampanye berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mungkin saja mereka (baca: rakyat) tidak begitu mengharapkan pemimpinnya berlaku sebagai ‘pelayan’ yang peka menyuarakan keinginan ‘sang majikan’.  Dinegeri ini rakyat sudah banyak menelan rasa kecewa dan sakit hati lantaran kerap disuguhi janji politik yang kemudian diingkari. Senyatanya mereka adalah pemilik negeri ini sehingga sungguh tak pantas kita memperlakukan mereka hanya sebagai kuda beban yang ditunggangi untuk dikorbankan. (Syam Alam)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-3597743638920855803?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/3597743638920855803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=3597743638920855803&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3597743638920855803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3597743638920855803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/07/rakyat-bukan-kuda-beban.html' title='RAKYAT BUKAN KUDA BEBAN'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SlrOgUjSj1I/AAAAAAAAAN0/ijB1a8So4BY/s72-c/Horse.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8005415468933660497</id><published>2009-05-15T03:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T04:07:26.001-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1LMkdI2mI/AAAAAAAAAM0/BrjxY5AelfM/s1600-h/Baharuddin_Lopa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 165px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1LMkdI2mI/AAAAAAAAAM0/BrjxY5AelfM/s400/Baharuddin_Lopa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336003812820310626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102); font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MENGGADAIKAN INTEGRITAS JABATAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;color:black;"   lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;Sudah dianggap biasa pejabat publik menerima berbagai upeti dimasa jabatannya. Berbalut kata “hadiah” upeti ini kemudian dibudayakan sebagai upaya menjalin “saling pengertian” antara pejabat publik dengan pihak pihak yang ingin memanfaatkan kekuasaan sang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pejabat. Karena itulah jangan kaget bila anda sering mendapatkan kabar bahwa banyak pejabat publik kita yang memiliki banyak rumah megah, berderet mobil mewah atau tanah yang terhampar dimana mana. Padahal bila menghitung dari gaji dan berbagai tunjangannya saja, mustahil semua itu mereka dapatkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;Sebenarnya bukan semata mata soal upeti itu saja yang menjadi masalah. Yang paling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengkhawatirkan justeru adalah imbas dari pemberian upeti tersebut terhadap berbagai keputusan (baca: kebijakan) yang akan ditempuh sang pejabat. Mudah ditebak. Dipastikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pejabat ini nantinya akan menempuh keputusan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menguntungkan atau melindungi kepentingan sang pemberi upeti. Apalagi pejabat itu memang bermental aji mumpung. Mumpung masih menjabat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka yang ada dibenaknya adalah bagaimana memaksimalkan keuntungan dari kekuasaannya. Jelas bukan untuk rakyat yang harusnya dibela kepentingannya, namun bagi isi perut, kepentingan keluarga atau kroni kroninya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam benaknya hanya terpikir, “Kapan lagi toh bisa begini?.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Entahlah, tiba tiba saja saya menerawang jauh dan ditelinga saya terngiang kata kata yang sulit saya lupakan yang terluncur dari bibir alharhum mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Begini katanya, “Jika saudara kebetulan pejabat tinggi dan membuat pesta pernikahan anak saudara, maka lihatlah niscaya tidak terhingga orang orang yang berkepentingan datang tanpa diminta mengulurkan bantuan dan sumbangannya. Sekali saudara menerima sumbangan itu, berarti saudara telah menggadaikan integritas jabatan dan pribadi saudara.”  (Syam Alam)&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8005415468933660497?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8005415468933660497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8005415468933660497&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8005415468933660497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8005415468933660497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/05/menggadaikan-integritas-jabatan-sudah.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1LMkdI2mI/AAAAAAAAAM0/BrjxY5AelfM/s72-c/Baharuddin_Lopa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-7271393030653832038</id><published>2009-05-15T02:43:00.000-07:00</published><updated>2009-05-15T03:37:52.436-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1B5Hn6BPI/AAAAAAAAAMs/NOhzCVO-u6Y/s1600-h/Aku+%26+Sariban.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1B5Hn6BPI/AAAAAAAAAMs/NOhzCVO-u6Y/s400/Aku+%26+Sariban.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335993583058683122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SARIBAN NAMANYA ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Sariban namanya. Dia sudah tidak muda lagi. Rambut putihnya menyembul dibalik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;topi caping yang selalu dikenakannya. Walau usianya sudah beranjak 66 tahun namun nafasnya masih panjang dan suaranya lantang. Dengan sepeda tuanya – yang disana sini dilengkapi alat alat kebersihan -&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia tak pernah menyerah untuk terus berkeliling kota Bandung memunguti sampah yang berserakan, mencabuti paku paku dipepohonan atau menyapu jalan yang dirasa masih kotor. Disengat panas matahari otot otot tangannya tampak berkilat. Untuk ukuran orang seusianya, aktifitas yang dilakukan Sariban sungguh berat. Tapi dia tak hirau dengan semua keterbatasannya itu. Seakan tak ingin berkompromi dengan tubuh kecilnya yang telah beranjak senja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Sariban namanya. Pensiunan karyawan Rumah Sakit Mata Cicendo ini mungkin bukan siapa siapa. Apalagi buat anda yang dulu terlanjur meneriakinya sebagai orang gila. Yah, Sariban memang pernah dianggap kurang waras, sinting atau setidaknya dianggap sebagai "nu gelo anyar" (orang yang baru gila)&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Sariban namanya. Dia bertutur tentang berton lebih paku yang dikumpulkan dirumahnya. Bukan paku yang dia beli dari toko material untuk membangun rumah. Bukan. Tumpukan berton paku itu tadinya tertancap dipepohonan diseantero Bandung. Sariban tak tega. Makanya tangan kecilnya rajin mencabuti paku paku tadi dari pohon pohon dikota Bandung. Katanya, "Pohon pohon itu kalau bisa ngomong, pasti akan berteriak kesakitan dipaku sana sini."&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Sariban namanya. Dia tidak mengharapkan bayaran kita. Tulus dia kayuh sepeda tuanya mengitari &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; hanya untuk mengabdi pada komitmen yang dia paku dalam hatinya. Sebuah cita cita luhur untuk menjaga lingkungan hidup agar terus bersahabat, bersih, hijau dan berbunga. Sariban meyakini antara lingkungan hidup dengan manusia dulunya telah terjalin sebuah interaksi yang utuh. Untuk itu lingkungan hidup rela dimanfaatkan untuk menopang segala kebutuhan hidup manusia. Namun kini manusia telah melampaui batas maksimal pemanfaatan tersebut. Yang terjadi saat ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah penzoliman manusia atas lingkungan hidupnya. Sariban mengelus dada. “Sungguh ironis,” katanya. Maka akibatnya telah ditanggung manusia. Planet yang bernama bumi ini kini terasa semakin garing, panas dan kurang bersabat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sariban namanya. Dia kembali mengelus dada. Atmosfer yang semakin menipis, ketersediaan air yang semakin terkikis dan pepohonan yang semakin tergerus kegilaan jaman, adalah potret yang ingin dia sampaikan kepada kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sariban namanya. Sungguh jangan remehkan apa yang tlah dia buat. Dia mungkin bukan siapa siapa. Tapi bila ada berjuta orang yang memiliki tekad seperti yang dia punya, kita tak perlu teriak soal global warming dan berbagai krisis lingkungan hidup lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sariban namanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dia masih rajin memunguti berserak sampah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;yang mungkin tadinya kita buang dari balik jendela mobil. Tangannya yang berkilat diterpa panas matahari mengajarkan kita agar membuang sampah pada tempatnya. Sederhana memang. Tapi dari hal yang sederhana itu banyak orang yang kemudian terlihat menjadi seakan tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;beradab. Karena dengan semena mena telah menyakiti lingkungan hidupnya sendiri. (Syam Alam)&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-7271393030653832038?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/7271393030653832038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=7271393030653832038&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/7271393030653832038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/7271393030653832038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/05/sariban-namanya.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sg1B5Hn6BPI/AAAAAAAAAMs/NOhzCVO-u6Y/s72-c/Aku+%26+Sariban.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-9153354841870622594</id><published>2009-03-22T20:01:00.001-07:00</published><updated>2009-07-14T21:42:57.555-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sl1d7hPFZCI/AAAAAAAAAOE/d5swaGjs-4Y/s1600-h/kursi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sl1d7hPFZCI/AAAAAAAAAOE/d5swaGjs-4Y/s200/kursi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358542408756061218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;DEMI SEBUAH KURSI &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;" &gt;Oleh: Syam Alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kursi sudah lama menjadi bagian dari keseharian hidup manusia. Bahkan bagi manusia modern, kursi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangatlah penting keberadaannya. Dikantor atau dimana pun kita berada, selalu mencari kursi yang paling nyaman untuk diduduki. Ditempat kerja, anda pasti akan merasa senang bila mendapat kursi yang bisa berputar putar, memiliki kaki yang beroda, apalagi sandarannya bisa pula direbahkan kebelakang. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; anggapan bahwa dengan kursi yang ergonomis ini kita dapat bekerja berjam jam lamanya tanpa merasa lelah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Terlepas dari enak dan tidaknya kursi, yang pasti kursi tetap dicari. Dalam posisi dikereta api yang penuh sesak pun misalnya - sehingga mengharuskan penumpangnya berdiri - keberadaan kursi kecil, keras dan tak nyaman pun jadi rebutan. Itulah kursi, mau enak atau tidak dikala diperlukan dia menjadi barang yang istimewa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;Kini, semakin banyak orang mencari kursi. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;Bukan kursi sembarang kursi tentunya. Dikala masa pemilu digulirkan, seorang calon legislatif harus rela merogoh koceknya dalam dalam hanya untuk mencari sebuah kursi. Kisarannya bisa mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah. Tak cukup disitu. Dia pun harus nampang dimana mana. Baliho, poster, stiker, leaflet, kaos dan spanduk bahkan sampai kaca film diangkutan kota bergambar diri dan janji janji politiknya disebarkan dengan biaya yang tidak sedikit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;Lagi lagi, tak cukup disitu. Dia pun dituntut untuk beriklan dimedia massa cetak, elektronik bahkan sampai kemedia on line. Memang tidak semua calon legislatif mampu meraih semua cara beriklan seperti itu, sebab semuanya sangat tergantung pada tebal dan tipisnya kantong. Bagi calon legislatif yang berkantong cekak, nampang dipohon pohon, tembok rumah orang atau dipintu angkutan kota, mungkin sudah dirasa cukup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Beragam motivasi orang untuk berbondong antri menjadi calon legislatif. Ada yang karena mengaku panggilan jiwa sebagai kader sebuah partai politik. Ada yang ingin mencoba mewakili rakyat karena merasa punya kemampuan untuk itu. Ada yang sudah tidak tahu bagaimana caranya lagi mengaktualisasikan diri. Ada yang mencoba peruntungan baru. Celakanya, ada juga yang berambisi menjadi kaya raya dengan cara ini. Masih banyak lagi motivasi orang menjadi calon legislatif. Sehingga tidak aneh bila calon legislatif berasal dari berbagai lapisan masyarakat, hingga seorang pedagang bakso pun punya nyali ikut dalam “audisi”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini. Semuanya demi sebuah kursi ...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Tapi kursi tetaplah kursi. Anda jangan lama lama duduk disana. Selain, karena bisa menyebabkan anda menjadi gemuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- bagi yang belum – duduk terlalu lama dikursi dapat merusak organ tubuh kita. Hal itu telah diingatkan ilmu pengobatan klasik Cina yang dikenal dengan Huang Di Nei Jing, 2000 yang lalu. Dari sisi yang lain, anda tidak bisa terlalu lama duduk dikursi karena sebagai wakil rakyat – bila terpilih – anda harus terus bergerak menyerap aspirasi dan kegundahan masyarakat. Dan itu pasti tidak dapat anda lakukan bila hanya duduk terpaku dikursi dan mengandalkan laporan dari staf anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Biarpun sangat dibutuhkan, anda tetap harus hati hati dengan yang namanya kursi. Setidaknya anda harus bijak dalam memperlakukannya. Kursi yang nyaman – dengan berbagai keunggulannya – bisa bisa hanya menjadikan anda malas untuk bergerak. Pada akhirnya, kursi yang nyaman memanjakan kita. Cukup dengan mendorong kursi dengan kaki, kita sudah bisa menjangkau atau mengambil sesuatu. Untuk berdiri, jelas malas rasanya. Bukan itu saja. Saking enaknya duduk dikursi, sampai sampai kita bisa tertidur diatasnya dengan merebahkan sandarannya. Sepintas mengasyikan memang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semestinya, kursi yang nyaman hanya dipergunakan seperlunya saja. Bagi anggota dewan yang dituntut mobilitasnya untuk memperjuangkan suara rakyat, jelas mereka tidak bisa melakukannya bila hanya duduk ongkang kaki dikursinya yang empuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Yang harus dipahami, menjadi wakil rakyat selain memangku amanah yang berat, juga tidak mudah menjalaninya. Bayangkan saja, hanya untuk mendapatkan informasi yang akurat dari konstituennya saja, mereka harus banyak melakukan perjalanan melelahkan disela sela kesibukannya rapat dilingkungan dewan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;mestinya dilakukan bila mereka ingin bekerja sepenuh hati dan sesuai janji. Melelahkan memang. Tapi itulah sejatinya sebuah pilihan. Pilihan untuk ingin dan mau dipilih sebagai wakil rakyat.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-9153354841870622594?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/9153354841870622594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=9153354841870622594&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/9153354841870622594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/9153354841870622594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/03/kursi-bagi-wakil-rakyat-oleh-syam-alam.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Sl1d7hPFZCI/AAAAAAAAAOE/d5swaGjs-4Y/s72-c/kursi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8465821648513337159</id><published>2009-03-17T18:41:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T22:38:11.335-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFfdd2ndtI/AAAAAAAAAOM/dx_xDqxyeg0/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 93px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFfdd2ndtI/AAAAAAAAAOM/dx_xDqxyeg0/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359669991382152914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Facebook Kita:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebuah Rekreasi Realitas?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Oleh: Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Facebook membantu anda berhubungan dan berbagi dengan orang orang dalam kehidupan anda“. Itulah kalimat pembuka yang saya jumpai dikala saya masuk kehalaman muka jejaring pertemanan dunia maya, Facebook.com.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Memang terasa mengasyikan setelah saya sukses membuat akun atas nama saya disana. Diera cyber saat ini menjadi amat mudah untuk mencari teman dari “dunia lain“ yang sebelumnya tidak kita kenal siapa jati dirinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang ada pula teman teman lama yang ikut terjaring dalam jejaring pertemanan dunia maya ini. Kalimat kalimat seperti, “Eh, elu disini juga ya, ikut mejeng juga nih ye, hai kemana aja aduuhh senengnya bisa ketemu,” dan seterusnya, adalah sapaan yang biasa kita jumpai ketika “bertemu“ teman lama. Asyik memang ...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Maka mulailah Facebook “menghubungkan“ saya dengan sebuah dunia yang lain. Saya pun bisa “bersilaturahmi“ dengan kawan kawan lama yang bertahun tahun tidak bertemu. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Walhasil, Facebook telah mampu memperpendek jarak antara kita. Luar biasa. Tak terpikirkan oleh saya - bahkan ketika Mark Zuckerberg mengembangkan Facebook pada Februari 2004 dari ruang kamarnya di Harvard - bahwa saya bisa menemukan “dunia lain” diluar realitas kehidupan sosial saya. Sebuah dunia dimana kita bisa berkontemplasi dengan masa lalu dan menjangkau masa kini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kita kemudian bisa saling merasakan keadaan masing masing. Keluh kesah, semangat, harapan bahkan imajinasi pun bisa saling kita komentari. Laiknya sebuah tatanan sosial, para penghuni Facebook pun bisa saling berkunjung, menanyakan kabar atau sekedar – maaf – mengunggah foto foto narsisnya. Sesuatu yang juga saya lakukan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ketika saya menulis kolom ini, jangan artikan saya ada diluar dunia anda. Saya adalah juga anda, sama sama penghuni Facebook. Kita sama sama “bertetangga” dan bukan masalah &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;, kalau saya mencoba untuk mempertanyakan dunia yang melingkupi kita ini. Sebagaimana kita sering bertanya, mengapa rutinitas perkotaan membangunkan kita sebuah dunia yang serba hedonis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Sekali lagi, saya sama seperti anda. Sama sama penghuni Facebook. Namun saya merasakan sebuah kegamangan – atau mungkin tepatnya ketakutan – bahwa apa yang kita lakukan ini hanya merupakan sebuah pelarian dari realitas sosial yang sengaja kita hindari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ketika seorang kawan mencoba mengaitkannya dengan filsafat metaforik dari Jean Baudrillard&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;tentang sebuah kematian sosial, awalnya saya menolaknya. Saya pikir apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sekedar &lt;i&gt;lifestyle&lt;/i&gt;. Tak lebih. Namun ketika saya menemukan kegelisahan betapa saya ada disebuah dunia yang terisolasi dari&lt;i&gt; &lt;/i&gt;realitas sosial, saya pun bertanya, jangan jangan memang benar saya tengah berada bahkan tertelan oleh sebuah model &lt;i&gt;virtual society&lt;/i&gt; atau tatanan sosial semu yang terbentuk dari interaksi dan komunikasi yang bersifat artifisial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Diera &lt;i&gt;cyber&lt;/i&gt; seperti saat ini memang sulit bagi kita untuk menolak menjadi &lt;i&gt;username&lt;/i&gt; di Facebook. Namun keniscayaan ini bukannya kemudian mematikan nalar kita untuk mengkritisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dunia kita yang baru ini. Barangkali adalah sebuah sikap yang bijak ketika kita mau menyisihkan waktu didunia maya ini, disisi lain kita masih memiliki gairah untuk menghidupkan realitas sosial dialam nyata. Artinya, kita tidak mau mentah mentah menelan semua ini hanya sebagai rekreasi realita belaka.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Maka, silahkan anda – dan juga saya tentunya – meneruskan keasyikan ini entah hanya sekedar memperbaiki status diwall, menulis puisi, membuat catatan harian, mengabarkan aktifitas atau mengunggah foto foto dan video yang ingin dibagikan. Namun disisi lain kita tetap menapakkan kaki kebumi untuk terus menjalankan aktifitas kehidupan sosial yang nyata. Dengan demikian kita tidak menyerahkan begitu saja kehidupan yang indah dalam fitrah Allah ini untuk diambil alih oleh kekuasaan media. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Sehingga, ketika kita asyik menjalin “kehidupan” didunia maya, kita masih getol untuk menyambangi teman, saudara atau tetangga disekitar kita walau hanya untuk sekedar menyapa, “Hai, bagaimana kabarnya, sehat sehat kan?!.” &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebagaimana yang sering kita tulis didinding teman teman kita, di Facebook.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;color:black;"   &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8465821648513337159?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8465821648513337159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8465821648513337159&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8465821648513337159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8465821648513337159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/03/facebook-kita-sebuah-dunia-yang-lain.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFfdd2ndtI/AAAAAAAAAOM/dx_xDqxyeg0/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-6491735999836476340</id><published>2009-03-07T01:37:00.000-08:00</published><updated>2009-07-17T23:02:36.619-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFk3vrCAyI/AAAAAAAAAOU/yqbDZUfb5eo/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 148px; height: 97px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFk3vrCAyI/AAAAAAAAAOU/yqbDZUfb5eo/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359675940400136994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Sang Pemecah Batu&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;Oleh: Syam Alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;Pernahkah anda - setidaknya - mengenal profesi pemecah batu?!. Batu batu yang menempel kuat sebagai pondasi rumah, taman atau dinding saluran air milik anda, tadinya adalah bongkahan batu besar. Saking besarnya, batu batu ini dibiarkan teronggok dipinggir kali atau dipegunungan. Lalu bagaimana caranya dia bisa tercerai berai dan menghiasi dinding rumah anda?. Lewat tangan dan kerja keras sang pemecah batulah, batu batu besar itu bisa diluluh lantakkan menjadi ukuran yang dikehendaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kini perhatikan bagaimana sang pemecah batu melakukan pekerjaannya. Batu tadi berulang ulang dia coba pecahkan dengan palu godamnya. Berulang ulang, mungkin sampai beratus kali. Seperti tidak ada tanda tanda batu besar itu akan pecah berkeping keping. Seakan sia sia saja usaha sang pemecah batu untuk menaklukkan batu besar itu. Begitu seterusnya, hingga pada akhirnya, "Prrraaakkkk!!!." Dengan sekali hentakan kuat palu godam yang diayunkannya berhasil memecahkan batu besar itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;Dari pecahan itulah kemudian dia dengan mudah memecahkannya kembali hingga menghasilkan beragam ukuran sesuai pesanan. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari usaha sang pemecah batu ini?!. Jawabannya adalah, sebuah usaha keras tak mengenal kata menyerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;Walau pada awalnya tidak ada tanda tanda batu besar tadi akan pecah berkeping keping, namun sang pemecah batu tidak  mengendurkan upayanya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;Dia terus mengayunkan palu godamnya. Terus dan terus, berulang kali tanpa henti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;Pertanyannya, apakah batu besar tadi pecah lantaran hantaman palu godam  yang diayunkan terakhir kali?!. Ternyata tidak. Hantaman palu godam yang terakhir kali hanya "menyempurnakan" kerja hantaman hantaman yang beratus kali sebelumnya. Ini hasil sebuah kerja yang berkesinambungan. Pecahnya batu adalah lantaran akumulasi hantaman palu godam yang diayunkan sang pemecah batu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;Mari kita mengkaji diri. Betapa banyaknya kesia siaan yang kita buat hanya lantaran kita tidak sabar untuk bertahan menjalankan usaha. Kita mudah putus asa lantaran kesal dan jenuh menunggu hasil kerja yang kita dambakan belum juga tampak batang hidungnya. Kita menjadi patah dan tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawajjuh&lt;/span&gt; untuk terus "menghantamkan palu godam" pada usaha kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;Kita sering menjadi kurang sabar untuk berusaha lebih keras lagi. Butuh keajaiban sebuah usaha bakal sukses hanya dengan "sekali ayun". Sedangkan kita tidak bisa dibayang bayangi terus oleh sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;miracle&lt;/span&gt;. Harusnya kita percaya pada sebuah usaha yang terukur dan terkonsep dalam keteraturan. Terus dan terus. Lagi dan lagi.  Sebab, bukan tidak mungkin hanya perlu  "sekali ayun" lagi kesuksesan bakal kita raih. Sehingga sangat disayangkan ketika sampai pada tahapan seperti itu kita sudah menyerah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;Sungguh, betapa banyak dari kita yang pada akhirnya hanya menjadi penonton dari kesuksesan orang lain. Kita memang bukan pemecah batu yang hidupnya termarjinalkan. Tapi kita jangan malu untuk meniru kerja kerasnya yang tak mengenal kata menyerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-6491735999836476340?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/6491735999836476340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=6491735999836476340&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6491735999836476340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6491735999836476340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/03/sang-pemecah-batu-oleh-syam-alam.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SmFk3vrCAyI/AAAAAAAAAOU/yqbDZUfb5eo/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-2363907785442848063</id><published>2009-02-19T01:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T01:57:15.478-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Membangun Kembali&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepercayaan Publik&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh: Syam Alam&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 1pt; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Ditengah maraknya suap menyuap terhadap pejabat publik,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harapan bagi terciptanya pencitraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap lembaga negara masih belum memuai. Rakyat masih berharap suatu saat mereka memiliki para pemimpin yang benar benar amanah dan tidak mau disuap atau menyuap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Reformasi bangsa ini memang masih terus diuji. Usia kemerdekaan yang terus bertambah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bukanlah jaminan kita bisa mendapatkan sebuah generasi yang benar benar ingin melayani rakyat dan bukannya sebaliknya. Pemahaman terhadap prinsip prinsip luhur dalam berbangsa dan bernegara juga tidak sepenuhnya diserap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Sehingga, bagaimana mau menjalankan sebuah amanah dengan baik bila prinsip yang paling hakiki dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;integritas kekuasaan saja tidak dipahami. Bahwa hak atas kekuasaan yang diperoleh menjadi satu paket dengan kewajiban memakmurkan bangsa. Artinya, kekuasaan yang diperoleh &lt;i style=""&gt;inherent &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atau lekat dengan sebuah kewajiban luhur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahwa kekuasaan hanya sebagai sarana untuk melayani rakyat dan bukannya sebuah tujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Celakanya, ketika yang dipahami adalah kekuasaan sebagai sebuah tujuan belaka, maka yang terjadi seperti yang sering kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saksikan saat ini. Untuk mencapai kekuasaan, banyak pejabat publik yang sampai harus menggelontorkan dana ratusan bahkan milyaran rupiah untuk mencari dukungan bahkan menyuap. Ironis memang. Ini terjadi ketika kita sedang mencoba untuk percaya bahwa reformasi pada gilirannya akan melahirkan para pemimpin yang tidak hanya berjiwa reformis tapi lebih dari itu ingin melayani rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Seharusnya bisa dipahami pula bahwa bila politik suap menyuap ini dibiarkan terus menjadi sesuatu yang lumrah, maka &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada akhirnya akan menggerus integritas bangsa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam kondisi seperti ini, yang diperlukan adalah kembalinya kepercayaan publik bagi kelangsungan lembaga negara dan bangsa dimata internasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Sebagai bangsa yang terus menggodok kematangan dan kedewasaan generasinya, semua komponen yang ada didalamnya harus bahu membahu dalam membangun kembali kepercayaan publik yang sempat tercabik cabik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kiita sudah banyak membuang waktu dengan berkonflik yang seakan tiada hentinya. Kita juga sudah membuang waktu untuk tidak menyiapkan sebuah generasi yang bakal mewarisi semangat perjuangan para pendahulu negeri ini. Kita justru lebih sering membuang waktu hanya untuk melobi agar kekuasaan terus berlangsung dan bertambah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tanpa menyadari bahwa untuk mengejar tujuan tersebut, ternyata harus mengorbankan begitu banyak peluang untuk membangun kembali kepercayaan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-2363907785442848063?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/2363907785442848063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=2363907785442848063&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2363907785442848063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2363907785442848063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/02/membangun-kembali-kepercayaan-publik.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8059433293750028650</id><published>2009-02-19T01:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T01:41:51.056-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menyiapkan TKI Profesional&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Oleh: Syam Alam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 1pt; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Bagi sebagian rakyat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, bekerja diluar negeri merupakan sebuah tujuan. Mereka rela mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk modal menjadi Tenaga Kerja &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; atau TKI. Bahkan banyak diantaranya yang harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh bangun mencari pinjaman atau menjual harta benda hanya agar mereka bisa terdaftar sebagai TKI. Banyak diantara mereka pula yang kemudian gigit jari lantaran tertipu oknum pengerah tenaga kerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Namun tidak semua orang berfikir bahwa bekerja diluar negeri sebagai TKI itu enak. Paling tidak, mereka memiliki keyakinan bahwa tidak selamanya bekerja dinegeri orang berlimpah uang dan kenyamanan. Bagaimanapun juga bekerja diluar negeri sangat beresiko bagi terjadinya kekerasan fisik yang mengarah pada penganiayaan. Penistaan terhadap nilai nilai kemanusiaan terhadap TKI khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) saat ini sering kita jumpai.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan, yang pulang dengan peti mati pun sering terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Meskipun demikian, kita harus mengakui bahwa dari keringat dan perjuangan hidup para TKI ini, devisa banyak didatangkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Direktur Pengembangan Kesempatan Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;M.Silalahi menjelaskan jumlah uang yang dikirim TKI diberbagai negara setiap tahunnya mencapai Rp.30 trilyun lebih. Luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Jumlah kiriman itu terus meningkat seiring terus bertambahnya jumlah TKI yang bekerja diluar negeri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bayangkan saja, setiap tahunnya tak kurang dari 700.000 orang berangkat keluar negeri menjadi TKI. Ditahun 2008 saja targetnya bahkan mencapai satu juta orang. Sebuah angka yang sangat besar bagi pengerahan tenaga kerja keluar negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Dengan semakin besarnya jumlah TKI, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan perlindungan terhadap para pahlawan devisa ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Disisi lain, pemerintah juga harus terus mendorong pengiriman tenaga kerja professional, seperti tenaga kerja dibidang teknik informatika, teknik mesin, tambang, perawat dan lain lain. Melihat peluang kerja dibidang profesional itu masih cukup besar, maka berbagai pelatihan juga harus terus digalang agar para TKI yang dikirim benar benar terlatih dan terdidik serta memiliki daya saing dengan tenaga kerja negara lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kita masih prihatin,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ternyata 70 persen TKI yang dikirim keluar negeri, semuanya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bekerja disektor informal seperti menjadi pembantu rumah tangga atau sopir. Seharusnya angka ini bisa berkurang seiring semakin besarnya peran pemerintah menyiapkan tenaga kerja professional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;Kita berharap, semoga tidak ada lagi cerita TKI yang nasibnya terlunta lunta dinegeri orang. Sebab ketika TKI dihantarkan sampai kebandara, kita pastilah tidak mengharapkan mereka nantinya pulang dalam keadaan teraniaya atau dalam keadaan sudah menjadi mayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 153);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8059433293750028650?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8059433293750028650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8059433293750028650&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8059433293750028650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8059433293750028650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/02/menyiapkan-tki-profesional-oleh-syam.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8718911017529566166</id><published>2009-02-19T01:36:00.000-08:00</published><updated>2009-04-07T21:04:58.796-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Pendidikan Untuk Semua Anak Bangsa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Oleh: Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;______________________________________________________________________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Ditengah perkembangannya, bangsa kita masih bergumul dengan berbagai permasalahan hidup. Begitu banyak masalah yang berpotensi dan sudah mempengaruhi perekonomian nasional. Untuk kesekian kalinya rakyat harus lebih mengencangkan ikat pinggangnya ketika mereka dihadapkan dengan berbagai peningkatan biaya hidup, termasuk  ketika harus berhadapan dengan masih mahalnya biaya pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Dunia pendidikan yang seharusnya sudah menyentuh semua lini masyarakat, hingga saat ini masih dirasa terlampau mahal. Masih banyak masyarakat yang seharusnya dibebaskan dari biaya pendidikan justeru harus berbagi periuk antara memenuhi kebutuhan makan sehari hari dan menyisihkan biaya untuk pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Sementara dilain sisi pemerintah dinilai masih kurang memberikan  perhatian yang selayaknya terhadap dunia pendidikan. Pemerintah masih dianggap gamang dalam menyalurkan anggaran sebesar 20 persen untuk pendidikan sebagaimana diamanatkan konstitusi.  Sebagaimana kita tahu, sesuai putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Undang Undang Nomor 16 Tahun 2008 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 45 Tahun 2007, pemerintah seharusnya menyediakan anggaran sebesar 20 persen dari APBN bagi pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Masalah didunia pendidikan kita seharusnya tidak terjadi lagi ketika anggaran pendidikan sebesar 20 persen nantinya ditangani secara akuntabel, transparan dan bertanggung jawab.  Alokasi anggaran Departemen Pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN 2009 ini tercatat yang paling tinggi dibanding departemen lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Selama ini, kecilnya anggaran dijadikan alasan terjadinya keterbelakangan pengembangan sumber daya manusia. Sekedar contoh, ketika pada tahun 2001 anggaran pendidikan kita hanya 10 persen dari APBN, di Thailand sudah menyentuh angka  30 persen.  Kecilnya anggaran pendidikan inilah yang kemudian dijadikan kambing hitam bagi kemorosotan mutu pendidikan nasional kita.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Sudah seharusnya semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan dinegeri ini tidak lagi menjadikan pendidikan sebagai ajang komersialisasi atau mencari keuntungan belaka. Karena semua rakyat berhak untuk menikmati pendidikan, maka sudah merupakani kewajiban bagi pemerintah untuk mengupayakan ketersediaan pendidikan untuk semua anak bangsa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8718911017529566166?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8718911017529566166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8718911017529566166&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8718911017529566166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8718911017529566166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/02/pendidikan-untuk-semua-anak-bangsa-oleh.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-2105003519063507573</id><published>2009-02-17T20:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T01:35:46.946-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(255, 204, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:16;"  lang="DE" &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Sikap Bijak Dalam Kebebasan Pers&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 1pt; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;Oleh: Syam Alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;Saat ini sudah bukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jamannya pers dikebiri. Pers sudah bisa menempatkan dirinya dalam posisi mengkritisi setiap kebijakan pemerintah, sementara disisi lain sudah mampu bertanggung jawab terhadap sikap kritisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;Dimasa lalu, pers seakan jalan ditempat. Mereka sering bungkam atau dibuat bungkam untuk menyikapi gejolak sosial yang terjadi. Jelas kehidupan pers semacam ini adalah kehidupan pers yang tidak sehat dan tidak mendidik bagi upaya pencerdasan masyarakat. Apalagi, ketika dihadapkan pada isu kampanye partai politik, dimana saat suhu memanas, kontrol terhadap pers sering terlampau menjerat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;Dimasa reformasi, kita menyaksikan wajah pers yang lain, yaitu pers yang lebih bergairah dan mulai berani menempatklan posisi mereka sebagai kontrol pemerintah. Namun pada kenyataannya kita masih sering menyaksikan pers yang kebablasan serta tidak seimbang dalam pemberitaan. Asumsi yang berkembang saat ini, betapa pers kita masih diganggu oleh &lt;i style=""&gt;euphoria&lt;/i&gt; reformasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;Menjelang pilpres 2009 suhu pemberitaan sudah mulai terasa memanas. Menghadapi masa kampanye biasanya kita dihadapkan pada isu-isu yang yang tidak hanya menguliti kebijakan, namun juga sudah mengarah pada &lt;i style=""&gt;caracter assination&lt;/i&gt; beberapa tokoh yang tidak dikehendaki. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tentu saja kita tidak menginginkan pemberitaan yang tidak proporsional dan membuat rakyat menjadi bingung. Yang kita &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;harapkan justeru menjelang pilpres 2009, pers kita mampu jauh lebih dewasa dalam bersikap dan menempatkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;Ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono menjamin bahwa selama masa kampanye nanti tidak akan ada pencabutan perijinan pers, ini memang cukup melegakan. Sebagaimana ditegaskan Menteri Komunikasi Muhammad Nuh, pemerintah memberikan garansi tidak akan ada pembatasan termasuk pencabutan perijinan pers. Namun, apakah ini menjamin bahwa pers kita akan menjadi lebih dewasa ?.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 1pt; color: rgb(255, 204, 153);"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Terlepas dari nada sumbang yang beredar bahwa kebebasan pers yang dijamin presiden&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;adalah sebuah manuver &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;untuk meraih simpati menjelang pilpres 2009, namun yang jelas kran kebebasan yang dibuka lebar-lebar ini harusnya disikapi jauh lebih dewasa oleh insan pers.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan kebebasan pers ini kita justeru ingin menyaksikan (juga membuktikan) pers jauh yang lebih dewasa, lebih matang dan lebih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;bertanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-2105003519063507573?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/2105003519063507573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=2105003519063507573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2105003519063507573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2105003519063507573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/02/tajuk.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-2202811754556983569</id><published>2009-01-28T23:23:00.000-08:00</published><updated>2009-03-28T03:05:39.646-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;KORUPSI KOK BERJAMAAH ...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 51, 0);font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;Oleh: Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt;Segala sesuatu yang dilakukan secara bersama sama tentu dampaknya akan sangat luar biasa. Tidak peduli apakah itu dilakukan untuk sesuatu berupa kebaikan atau sebaliknya, kejahatan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Dalam melakukan shalat misalnya. Bila dilakukan secara bersama sama atau berjamaah, maka pahala yang diterima bakal berbeda dengan shalat yang dilakukan secara sendiri sendiri. Bisa berlipat lipat sampai dua puluh tujuh derajat. Luar biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Nah, ketika korupsi sudah menjadi bagian dari sistem, kita kemudian mengenal apa yang disebut sebagai korupsi yang dilakukan secara bersama sama. Korupsi yang dilakukan secara sistemik ini, sudah mengubur “trend” lama yaitu korupsi yang dilakukan secara sendiri sendiri. Bahkan, sebuah obrolan diwarung kopi mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ah, jaman sekarang &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;mah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; kalau korupsi dilakukan sendiri sendiri sudah usang. Korupsi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sekarang &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;mah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dilakukan berjamaah!.” &lt;/span&gt;Berjamaah?!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Yah, berjamaah. Karena korupsi di Indonesia bukan hanya menyangkut penyalahgunaan kekuasaan (&lt;i style=""&gt;abuse of power&lt;/i&gt;) saja, namun sudah menjadi bagian dari kekuasaan yang saling bersentuhan satu dengan lainnya. Bahkan, korupsi sudah menjadi bagian yang melekat dengan sistem itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt; &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Upaya  maksimal  penegakan hukum harus disertai pendekatan sistem atau &lt;i style=""&gt;systemic approach&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena korupsi sudah mengakar sebagai korupsi sistemik atau korupsi kelembagaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Dengan pendekatan ini, misalnya, nantinya lembaga peradilan tidak lagi melakukan “tebang pilih” kasus korupsi yang bakal ditangani. Apalagi bila ini menyangkut kasus korupsi berjamaah yang tidak hanya menggurita dikalangan eksekutif saja namun juga melibatkan institusi kenegaraan lainnya seperti legislatif, yudikatif maupun institusi negara non departemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Cukup sudah negeri ini terkoyak moyak lantaran korupsi yang dilakukan secara membabi buta. Dan karena korupsi sudah lazim dilakukan secara berjamaah maka memeranginya pun harus dilakukan secara berjamaah pula dengan melibatkan semua pihak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;termasuk masyarakat dan pers sebagai &lt;i style=""&gt;social power &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;dan institusi kenegaraan sebagai &lt;i style=""&gt;political power&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;Saatnya mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak ada tempat bagi koruptor dinegeri ini!.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-2202811754556983569?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/2202811754556983569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=2202811754556983569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2202811754556983569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2202811754556983569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/korupsi-berjamaah-oleh-syam-alam-segala.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-4637480945642345373</id><published>2009-01-28T02:46:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:14:36.627-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;MUHASABAH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);font-family:arial;"  lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt;Ini cerita tentang seseorang yang tinggal didesa terpencil. Suatu ketika&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt;tanpa disangka sangka orang desa ini bertemu dengan kawan lamanya yang telah menjadi orang kaya dikota. Lalu diundanglah dia kekota dan dijamu dengan berbagai fasilitas yang belum pernah dia rasakan selama tinggal didesa. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Celakanya, orang ini – sebut saja si fulan - pelit bertanya dan terkesan sok tau. Begitu pun ketika dia diinapkan disebuah hotel berbintang dengan fasilitas kamar yang lengkap, dia tidak mau bertanya dan nrimo saja atas semua yang disediakan pihak pengelola hotel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Suatu ketika si fulan hendak mandi. Dia bingung ada dua kran, yang satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna biru. Akhirnya dia memilih memutar kran yang berwarna merah. Dia kaget!. Airnya panas. Lalu dia putar kran yang biru. Dia pun kaget!. Airnya dingin. Akhirnya dia pun mulai asyik menikmati mandinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Kemudian, si fulan memberanikan diri bertanya kepada pelayan hotel, “Pak, dimana ya tempat menjual kran merah dan biru seperti yang dikamar mandi ini?.” Pelayan hotel dengan muka penuh tanya menjawab, “Oh, bapak bisa membelinya ditoko material. Modelnya juga banyak kok pak.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Nah, si fulan berpikir, nanti kalau hendak pulang kedesanya dia akan membeli dua kran warna merah dan biru seperti yang ada dihotel tempat dia menginap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Singkat cerita, tibalah waktunya si fulan pulang kembali kekampungnya. Sebelumnya, tentu saja dia mampir ketoko material untuk membeli kran warna merah dan biru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Setiba dikampungnya, dia pamerkan kedua krannya itu sembari mengatakan akan membuat kejutan hebat. Maka tidak berlama lama dia menjebol tembok kamar mandinya untuk menempelkan dua krannya tadi. Setelah disemen rapi, maka dia mempersilahkan orang orang menyaksikan, bahwa kran yang berwarna merah akan mengeluarkan air panas dan kran yang biru mengeluarkan air dingin.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Tapi tentu saja dia kaget bukan kepalang!. Ternyata ocehannya tidak terbukti dan orang orang dikampungnya menganggapnya sudah gila. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Ramai orang kampung mengatakan bahwa si fulan sepulang dari kota menjadi gila. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa pelajaran yang bisa kita petik dari keluguan – atau mungkin lebih tepat disebut kedunguan - si fulan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;ini?. Inilah tamsil betapa seringnya kita - dengan tidak sadar tentunya - berperilaku seperti si fulan yang tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa untuk memancarkan air panas dan dingin kedua kran tadi harus dihubungkan dengan pipa lalu ketandon dan sebagainya sampai pada konektor yang menghubungkan dengan water heater serta proses lainnya. Semuanya tidak tampak dipermukaan, tapi nyatanya ada.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:14;color:black;"   lang="DE" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Artinya, ada proses yang dia lupakan. Dia hanya tahu hasilnya saja, namun melupakan bahwa hasil atau &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: arial;"&gt;output &lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;tadi harus melalui proses yang panjang.&lt;/span&gt; Kita pun sering bersikap demikian. Kita hanya mampu melihat pohon tumbuh, hewan beranak pinak, anak anak kita tumbuh berkembang, harta semakin banyak atau usia yang semakin menggerus badan dan seterusnya, tanpa mau menelusuri adanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;"kanal kanal“ yang menghubungkan semua hasil tadi dengan Sang Maha Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Kita sering lupa  menyisihkan waktu untuk menelusuri kazanah keagungan Sang Maha Pencipta. Semoga kita tidak (semakin) terlanjur menjadi "dungu" dan sok tau hanya lantaran kita memang tidak mau tahu. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-4637480945642345373?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/4637480945642345373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=4637480945642345373&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/4637480945642345373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/4637480945642345373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/hanya-mengingatkan-saja.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-1004957395010052706</id><published>2009-01-22T01:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:39:56.455-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;TANGISAN UMAR BIN ABDUL AZIZ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;Oleh : &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);font-size:130%;" lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Setelah dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz beranjak kemusholanya. Disanalah dia menangis tersedu sedu ...&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Ketika ditanya mengapa beliau menangis sejadi jadinya, padahal baru    memperoleh    kekuasaan,   Umar bin Abdul Aziz    menjawab:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;“Aku memikul amanat ummat ini dan aku menangisi orang orang yang menjadi amanat atasku, yaitu kaum fakir miskin yang lemah dan lapar, ibnu sabil yang kehilangan tujuan dan terlantar, orang orang yang dizalimi dan dipaksa menerimanya, orang orang yang banyak anaknya dan berat kehidupannya. Aku merasa bertanggung jawab atas beban mereka. Karena itu, aku menangisi diriku sendiri karena beratnya amanat atas diriku.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;" lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Masa terus berlalu, dunia berpacu dengan ambisi manusia untuk terus mencari dan menumpuk kekuasaan. Kini yang sering kita jumpai begitu banyak orang yang meluapkan suka citanya ketika mendapatkan kekuasaan. Dengan dalih “syukuran”, mereka mengadakan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berbagai pesta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luapan gelora kebungahan ini kemudian menenggelamkan esensi jabatan atau kekuasaan yang baru didapatnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:130%;"&gt;Betapa kekuasaan sudah dipandang sebagai tujuan dan bukannya “kendaraan” untuk mensejahterakan ummat. Karena itu jangan heran, bila untuk mendapatkan kekuasaan, banyak orang yang kemudian menempuh jalan yang tidak rasional seperti pergi kedukun, mencari azimat, memakai aji aji pengasih, menyuap, menelikung, membayar pengerahan massa serta perilaku lain yang sungguh menjijikkan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;Sungguh malu rasanya kalau harus membandingkan suasana hati Umar bin Abdul Aziz ketika mendapatkan kekuasaan, dengan para pejabat kita yang justeru berpesta pora dan lupa diri. Sungguh, seharusnya kita malu ...&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(255, 204, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-1004957395010052706?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/1004957395010052706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=1004957395010052706&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/1004957395010052706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/1004957395010052706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/tangisan-umar-bin-abdul-aziz-oleh-syam.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-4034337415786562113</id><published>2009-01-16T21:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T02:06:20.907-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify; font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 255);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:130%;" &gt;NASIHAT ULAMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Syam Alam &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Setelah dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta nasihat kepada para ulama. Salah satu ulama, Salim bin Abdullah memberi nasihat, “Wahai khalifah, jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan saudara saudaramu dan sayangilah anakmu.”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Ulama lain, Muhammad bin Ka’ab menasihatinya, “Wahai khalifah, cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri. Dan bencilah sesuatu untuk orang lain, sebagaimana engkau membenci sesuatu untuk dirimu sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Sementara ulama Hassan al-Basri menasihatinya, “Demi Allah aku telah bergaul dengan banyak orang yang sedap dipandang oleh mata dan tutur katanya menyentuh hati. Ucapan mereka adalah penawar bagi apa yang ada didalam dada. Memelihara dengan apa yang halal, lebih mereka utamakan daripada menjaga diri dari yang haram. Perhatian mereka terhadap shalat sunnat lebih besar daripada perhatian kita terhadap shalat fardhu. Mereka menutupi kebaikan kebaikan yang mereka lakukan, sebagaimana kita menutup nutupi segala keburukan kita. Mereka menangis jika berbuat kebaikan, sementara kita tertawa jika berbuat kesalahan.”&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Mendengar semua nasihat tadi, khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu sedu sambil menutupi wajahnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-4034337415786562113?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/4034337415786562113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=4034337415786562113&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/4034337415786562113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/4034337415786562113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/nasihat-ulama-oleh-syam-alam-setelah.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-3674340840002640066</id><published>2009-01-16T21:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:43:49.107-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KESALEHAN SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify; color: rgb(51, 204, 0); font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Disaat jaman telah menuntut masyarakat perkotaan berpola hidup konsumtif dan berlabel hedonis, maka ketika itu pula praktis mereka telah mengabaikan nilai nilai kesalehan sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Hidup mereka bagai terlepas dari ikatan tata krama dan kepekaan terhadap persoalan lingkungan sosialnya. Akhirnya, kita sulit menemukan semangat kebersamaan untuk membangun lingkungan sosial, yang pada gilirannya melumpuhkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;effort&lt;/span&gt; untuk memerangi kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Karena itulah, himbauan agar masyarakat menghidupkan kembali kesalehan sosialnya, ibarat oase ditengah kegersangan hidup materialistis. Percayalah, bila masyarakat kota mengedepankan nilai nilai kesalehan sosialnya, maka penistaan terhadap norma norma kehidupan masyarakat tidak akan kita temui lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Dengan semangat mengedepankan kesalehan sosial, semua akan terpacu adrenalinnya untuk berusaha memberikan manfaat kepada seluruh elemen lingkungan sosialnya. Tidak ada lagi individualisme sebagai bagian dari gaya hidup hedonis. Tidak ada lagi keluhan sebagian warga akibat tindakan warga lain yang merugikan. Orang tidak lagi mengomel lantaran tetangganya berbuat gaduh, membuang sampah sembarangan atau lantaran rumahnya dibobol maling. Bahkan, tidak ada lagi warga yang menderita kelaparan lantaran lepas dari perhatian tetangganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Dengan mengedepankan kesalehan sosialnya, setiap warga masyarakat pastilah akan mempedulikan agar warga yang lain terjaga security feeling nya ketika mereka terjaga dari bangun tidur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:arial;" &gt;Kita telah membuktikan bahwa gaya hidup materialistis yang dianut masyarakat perkotaan selama ini telah nyata nyata melumpuhkan sendi sendi kebersamaan, persaudaraan, keguyuban dan semangat silih asah, silih asuh dan silih asih yang telah diwariskan para orang tua kita. Maka, sudah saatnya kita menemukan kembali akar kehidupan kita dalam bermasyarakat, yaitu memberikan manfaat bagi sesama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-3674340840002640066?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/3674340840002640066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=3674340840002640066&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3674340840002640066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3674340840002640066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/kesalehan-sosial-oleh-syam-alam-disaat.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-2771373607904852829</id><published>2009-01-15T19:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:45:22.517-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:180%;" &gt;SUPREME OF LAW&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;Sebenarnya sederhana saja. Saat kita hendak membangun &lt;i style=""&gt;supreme of law&lt;/i&gt; atau supremasi hukum, maka tegakkan saja hukum tanpa pandang bulu. Namun hal yang sederhana ini sekarang dibuat berbelit belit hanya lantaran banyak oknum penegak hukum masih memandang “panjang pendeknya tebal tipisnya” bulu orang orang yang bermasalah dengan hukum.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Memang, kita sering mendengar bahwa supremasi hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Setidaknya, ada semangat penegakan hukum yang masih membara. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namun yang menjadi ironi, ketika hukum itu kemudian berkenaan dengan dirinya, keluarga atau kroninya, maka banyak oknum penegak hukum dinegeri ini berkelit dan mengumbar pernyataan “pembenaran” yang menyesatkan. Bahkan, kebohongan publik sering dilontarkan.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;Jadi, ada semacam dualisme sikap. Disatu sisi oknum penegak hukum ini mengajak, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="PT-BR" &gt;“Mari kita tegakkan supremasi hukum dinegeri ini.” Namun, bila itu kemudian menyangkut kepentingan bahkan isi perutnya, dia akan berkata, “Eh ... nanti dulu.” Maka dibuatlah skenario dimana penyelesaian hukumnya menjadi abu abu, tidak jelas mana hitam mana putihnya. Ini tentu sungguh sesat dan menyesatkan. Sebab, manalah mungkin kita berharap air dihilir jernih bila air dihulu sudah tercemar?!.&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Ada sebuah kisah manis tentang bagaimana seharusnya supremasi hukum ditegakkan. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW dikunjungi seorang sahabatnya. Sahabat ini memohon dengan sangat agar Nabi membebaskan kerabatnya yang berbuat kejahatan. Lalu bagaimana jawaban Nabi?. Dengan tegas beliau mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Seandainya anak perempuanku sendiri - yaitu Fatimah Azz Zahra -  mencuri,maka niscaya dia akan tetap kupotong tangannya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-2771373607904852829?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/2771373607904852829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=2771373607904852829&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2771373607904852829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/2771373607904852829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/supreme-of-law-sebenarnya-sederhana.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-3338152521491243986</id><published>2009-01-13T00:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T01:07:11.216-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;KORUPSI ITU SEPERTI BOLA SALJU.&lt;br /&gt;SEKALI SAJA MENGGELINDING,&lt;br /&gt;MAKA AKAN BERTAMBAH BESAR.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 153, 153);font-family:arial;" &gt;Charles Caleb Colton (1780 - 1832), penulis Inggris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-3338152521491243986?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/3338152521491243986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=3338152521491243986&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3338152521491243986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/3338152521491243986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/korupsi-itu-seperti-bola-salju.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-7596331309231786735</id><published>2009-01-12T18:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:50:37.373-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 204);"&gt;BAGI KAUMKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang tewas dipangkuan ini,&lt;br /&gt;adalah milik kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang poulas menggeliat dalam asap&lt;br /&gt;tersakiti racun dinina bobo mambang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Karena kita sudah tak berurat berakar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;untuk masuk gelanggang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;lalu berlaga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Sedang diluar anak anak kita hidup menggelandang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Dengan tali yang diikat dari rambut matahari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;mereka mencoba naik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;dan ngintipi anak sekolah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Tidurlah kaumku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;tidurlah pada perut yang nyeri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Ditelapak padang kita bertakbir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;membangunkan saudara saudara kita yang mati&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Lapar ini tak lagi bisa berdalih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Tidurlah kaumku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;tidurlah dipinggir plaza&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Walau betapa semarak mereka ciptakan surga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;tahta, cincin dan anting anting imitasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 204);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-7596331309231786735?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/7596331309231786735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=7596331309231786735&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/7596331309231786735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/7596331309231786735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/bagi-kaumku-dunia-yang-tewas-dipangkuan.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8364172779488028607</id><published>2009-01-12T00:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:46:40.025-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:180%;" &gt;REFORMASI SEPANJANG MASA&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold; color: rgb(192, 192, 192);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);"&gt;Syam Alam&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;"  lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Tidak bisa dipungkiri, reformasi yang digulirkan pada 1998 lalu untuk meruntuhkan tiga puluh dua tahun pemerintahan Orde Baru, telah mengalirkan semangat untuk menjadikan Indonesia lebih demokratis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Namun, reformasi pada akhirnya juga telah membidani lahirnya banyak pemimpin dan petualang politik, sebagaimana disisi lain juga menghasilkan banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Kita tengok saja. Setelah reformasi bergulir, toh rakyat kecil masih hidup susah. Belum lagi begitu banyak tragedi kehidupan anak bangsa yang kemudian hanya tercampakkan begitu saja diemperan tanpa pernah disentuh oleh kebijakan yang berpihak. Pemimpin yang dulunya mengaku reformis,tak jua mampu mencari solusi bagi rakyat kecil lantaran beradu kepentingan dengan kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Yang partut disesalkan ketika reformasi hanya dirancang untuk sebuah tujuan sesaat dimana “gincu” nya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menina bobokan rakyat sesaat pula. Rakyat hanya dijadikan komoditas politik belaka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Padahal, hakekatnya reformasi akan terus menjadi tuntutan selama ketidakmapanan masih dirasakan rakyat. Ketika rakyat kecil masih merasakan ketidakadilan, hidup dalam ranah politik yang carut marut, terampas daya belinya serta teronggok karena kesulitan ekonomi, maka semangat reformasi akan terus berkumandang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(192, 192, 192); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Senyatanya, reformasi bukanlah jubah yang bisa ditanggalkan kapan kita mau. Bukan pula pemanis rupa yang bisa kita hapus bila sudah tak terpakai. Sebab, reformasi adalah sebuah perjuangan mulia yang tidak akan pernah usai bila ketidakmapanan masih bertahta dengan angkuhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;span style="color: rgb(192, 192, 192);font-size:130%;" &gt;Reformasi bila diperjuangkan dengan tulus, dia akan bermetamorfosa menjadi nafas bagi cita cita kehidupan yang lebih baik. Reformasi juga bukanlah sandiwara murahan yang hanya kita mainkan berdasarkan pesanan kepentingan. Sebab reformasi adalah jiwa. Karena terlahir untuk peka terhadap derita rakyat, dia akan terus “bernyanyi” sepanjang aliran air mata. Sepanjang masa ...&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:14;"  lang="PT-BR" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8364172779488028607?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8364172779488028607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8364172779488028607&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8364172779488028607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8364172779488028607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/pesan-moral_12.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-6855447040845384470</id><published>2009-01-09T22:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-19T00:33:39.308-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 4.5pt 12pt 0in; color: rgb(204, 204, 204);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;MEMBANGUN BANGSA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Syam Alam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Arial;"&gt;Dialam demokrasi, keberadaan partai politik adalah soko gurunya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari keberadaan partai politik inilah diharapkan pondasi sebuah bangsa dapat dibangun lebih kokoh. Meskipun tidak jarang dalam perjalanannya partai politik lebih mementingkan kepentingan partainya ketimbang kepentingan bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Banyaknya partai politik di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, sejatinya diharapkan menjadi perekat kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya menjadi pemecah kesatuan bangsa. Runyam jadinya, bila kemudian partai politik bisanya hanya berpindah pindah ideologi, sementara ideologi bangsa terlupakan. Begitu pula, partai politik harusnya tidak dibangun untuk kepentingan sesaat, karena partai politik punya tanggung jawab moral membangun bangsa yang majemuk ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ketika kemudian partai politik gagal dalam membangun partainya sendiri, maka tentu saja rakyat akan bertanya tanya, bagaimana mungkin partai politik dapat membangun bangsanya?. Kenyataannya, sudah biasa kita menyaksikan para politisi tidak mampu berkoordinasi, berdiskusi dengan sehat bahkan saling bertemu untuk memecahkan persoalan partainya sendiri. Padahal, dalam masyarakat kita yang majemuk dengan ikatan tradisi, agama serta nilai nilai moderatnya ini, partai politik juga dituntut membangun ideologi bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Namun sayang seribu sayang, kita masih menyaksikan sepak terjang partai politik yang masih belum sepenuhnya memahami peran mereka dalam membangun bangsa. Tumbangnya beberapa pemerintahan dinegeri kita juga tidak luput dari besarnya tekanan partai partai politik dalam perannya sebagai oposan. Akhirnya, kita menyaksikan beberapa pemerintahan ambruk ditengah jalan. Pada gilirannya, keadaan seperti ini membuat persoalan bangsa menjadi tidak terselesaikan dengan tuntas seiring terpenggalnya sebuah pemerintahan dengan cara yang menyakitkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kita memang harus mengakui, meskipun kita pernah bergonti ganti sistem politik - mulai dari Demokrasi Terpimpin hingga Demokrasi Pancasila - namun belum ada satu pun sistem politik yang dihasilkan oleh partai politik atau pemimpin negeri ini yang berhasil merangkaikan seluruh rakyat Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Inilah kenyataan yang tidak hanya harus dipahami oleh para pemimpin dan partai politik dinegeri ini, namun juga oleh kita semua sebagai bagian dari kesatuan bangsa yang besar. Agar kita bisa memahami demokrasi secara utuh dan tidak terpotong potong.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(204, 204, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-6855447040845384470?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/6855447040845384470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=6855447040845384470&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6855447040845384470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/6855447040845384470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/pesan-moral.html' title=''/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-657010137328185739.post-8054403520231799902</id><published>2009-01-01T00:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T21:47:51.678-08:00</updated><title type='text'>HIDUP SEBATAS ANGAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/SW2dYndMnPI/AAAAAAAAAEc/Bg1BC6aK3wI/s1600-h/Syam+-+KBR68H.JPG"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/657010137328185739-8054403520231799902?l=syamalam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syamalam.blogspot.com/feeds/8054403520231799902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=657010137328185739&amp;postID=8054403520231799902&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8054403520231799902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/657010137328185739/posts/default/8054403520231799902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syamalam.blogspot.com/2009/01/lagi-renovasi.html' title='HIDUP SEBATAS ANGAN'/><author><name>SYAM ALAM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17295097930892257627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_uVPWWtGxG2I/Shz3OydGSjI/AAAAAAAAAM8/YT55wY3om2Q/S220/Copy+of+Aku.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
